Sabtu, 10 Juli 2010

KEROHANIAN

        Kehidupan rohani dalam islam adalah dimulai dari kehidupan Nabi Besar muhammad s.a.w dan sahabat-sahabatnya yang utama dan terdapat pula dalam kehidupan para Nabi-Nabi terdahulu.
        Nabi Muhammad sebelum menghadapi pekerjaan besar yang akan menggemparkan dunia itu, lebih dahulu beliau telah melatih dirinya dalam hidup kerohanian. Demikian juga dalam kehidupan Abu Bakar, Umar, ustman dan Ali serta beberapa sahabat-sahabat teras lainnya.
        Umat Islam seketika permulaan berkembangnya agama Islam itu, sahabat- sahabat Nabi yang utama mencontoh kehidupan Nabi, telah dapat menggabungkan kehidupan lahir(duniawi) dengan hidup kerohanian dalam kegiatannya sehari-hari. Meskipun ia menjadi kholifah yang utama dimana segala warna kehidupan itu telah ia pandangi dari hidup kerohanian. Hidup yang ditegakkan atas kemurnian jiwa dan kebersihan hati, memperkuat iman, keyakinan dan kekuatan batin.
         Berkat hidup kerohanian kaum muslimin dizaman Rasulullah, mereka mencontoh Nabi Besar muhammad s.a.w., berjuan menegakkan suatu negara untuk ketinggian agama Allah. Sampai jatuh kekuasaan lawan-lawanya kebawah telapak kakinya. Hancurnya singgasana Kaisar Roma, runtuhnya mahligai kaisar dari Persi dan terpeganglah anak kunci barat dan timur, kekayaan melimpah ruah, harta benda bertumpuk, namun semua itu bukanlah tujuan, hanya barang-barang yang bertemu ditengah jalan yang kebetulan ditemui dalam menuju yang paling besar yaitu kepada jalan Allah SWT.
        Sebelum Nabi menyatakan dirinya sebagai pesuruh Allah, beliau bertahun-tahun menyisihkan diri, semadi atau berkhalawat berhari-hari, bermalam-malam di gua Hira. Dalam khalawat beliau duduk tafakur pada af'al Allah, berzikir terus semata-mata mengingat Allah dengan ikhlas dan sempurna, sehingga bisa putus hubungannya dengan yang lain daripada Allah.

HIDUP ZUHUD DAN SEDERHANA DIANJURKAN OLEH RASULULLAH

        Cara hidup beliau adalah sangat sederhana dari pakaiannya, makanannya, tempat tidurnya, tetapi sebaliknya ibadah dan shalatnya sampai jauh malam kadang sampai menangis dalam melakukan shalat.
        Pada suatu hari datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad menyampaikan salam Tuhan dan bertanya,"Manakah yang engkau sukai ya Muhammad, menjadi Nabi yang kaya raya seperti Nabi Sulaiman atau Nabi yang miskin seperti Nabi Ayyub?". Lalu beliau menjawab, "Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari. Jika kenyang, aku bersyukur pada Tuhan. Jika lapar bersabar atas cobaan Tuhanku".
         Kehidupan yang demikianlah beliau anjur-anjurkan pula kepada umatnya. Rasulullah bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, supaya Tuhan mencintaimu. Dan zuhudlah pada yang ada ditangan manusia supaya manusiapun cinta engkau. (HR. Ibnu Maja, At-Tabrani dan Baihaqi)
         Sabda Rasulullah, " Apabila Tuhan menghendaki seseorang hambanya menjadi orang baik, diberinyalah faham akan rahasia-rahasia agama, ditimbulkannya rasa zuhud terhadap dunia dan diberi anugerah dapat memandang yang gaib dan cela dirinya sendiri", (HR. Baihaqi)
         Bila kita perbandingkan dengan kehidupan orang-orang yang zahid dan Abid, yaitu ahli-ahli tasawwuf yang datang kemudian, dapatlah dengan mudah meneliti persamaan kehidupan mereka dengan kehidupan Nabi Muhammad dalam kehidupan kerohanian.
         Demikianlah maka imamul Ghozali berpendapat, "Bahwa aku yakin benar-benar kaum shufiyah itulah yang benar-benar telah menempuh jalan yang dicontohlan oleh Nabi dan yang dikehendaki oleh Allah SWT.
         Selanjutnya imamul Ghozali berpendapat, "Bahwa mendekati Tuhan, merasa adanya Tuhan dan Ma'rifat Tuhan, hanya dapat dicapai dengan menempuh satu jalan yang ditempuh oleh kaum Shufi".

Tidak ada komentar: