Denpasar (ANTARA) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah akan berupaya melakukan perlindungan satwa harimau dari kepunahan dengan penegakan hukum yang lebih berat bagi pelaku pemburu maupun pembalak hutan.
"Bagi perusak hutan dan pemburu satwa-satwa langka kita akan jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Satwa Langka serta hukumannya lebih berat dari sekarang," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Nusa Dua, Bali, Senin.
Pada acara "Pre Tiger Summit Partners Dialogue Meeting" itu, ia mengatakan, saat ini harimau berada pada kondisi kritis, spesies harimau di seluruh dunia yang tersisa sekitar 3.200 ekor.
"Jumlah itu terdiri dari enam sub spesies, yaitu harimau Sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan dan Malaya," kata Menhut yang didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Ia mengatakan, ancaman kepunahannya berupa hilang dan terfragmentasinya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau tersebut.
Dikatakan, sub spesies yang ada di Indonesia, yaitu harimau Sumatra yang saat ini populasinya sekitar 400 individu atau 12 persen dari total populasi harimau di dunia.
"Berdasarkan data, habitat harimau Sumatra telah menyusut hampir 50 persen dalam kurun waktu 25 tahun terakhir," katanya.
Zulkifli mengatakan, sekitar 70 persen dari habitat tersisa tersebut berada di luar kawasan konservasi yang tersebar pada sekitar 20 petak hutan yang terisolasi satu dengan yang lainnya.
"Kondisi inilah yang menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau dunia," ucapnya.
Ia mengatakan, dengan menyelamatkan harimau, bukan hanya menyelamatkan satwa dilindungi, tetapi juga menyelamatkan harimau tersebut.
"Populasi harimau yang baik merupakan indikator hutan yang sehat, karena harimau butuh habitat yang luas dan mangsa yang banyak," ujarnya.
Dikatakan, hutan yang kondisinya baik bukan hanya membawa manfaat dan kesejahteraan bagi jutaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
"Misalnya sebagai daerah resapan air, penyediaan air bersih, sumber makanan dan obat-obatan, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penurunan emisi gas rumah kaca," katanya.
Kegiatan tersebut dihadiri 13 negara yang memiliki harimau alam, yaitu Bangladesh, China, India, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, Vietnam, Bhutan, Malaysia dan tuan rumah Indonesia
"Bagi perusak hutan dan pemburu satwa-satwa langka kita akan jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Satwa Langka serta hukumannya lebih berat dari sekarang," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Nusa Dua, Bali, Senin.
Pada acara "Pre Tiger Summit Partners Dialogue Meeting" itu, ia mengatakan, saat ini harimau berada pada kondisi kritis, spesies harimau di seluruh dunia yang tersisa sekitar 3.200 ekor.
"Jumlah itu terdiri dari enam sub spesies, yaitu harimau Sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan dan Malaya," kata Menhut yang didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Ia mengatakan, ancaman kepunahannya berupa hilang dan terfragmentasinya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau tersebut.
Dikatakan, sub spesies yang ada di Indonesia, yaitu harimau Sumatra yang saat ini populasinya sekitar 400 individu atau 12 persen dari total populasi harimau di dunia.
"Berdasarkan data, habitat harimau Sumatra telah menyusut hampir 50 persen dalam kurun waktu 25 tahun terakhir," katanya.
Zulkifli mengatakan, sekitar 70 persen dari habitat tersisa tersebut berada di luar kawasan konservasi yang tersebar pada sekitar 20 petak hutan yang terisolasi satu dengan yang lainnya.
"Kondisi inilah yang menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau dunia," ucapnya.
Ia mengatakan, dengan menyelamatkan harimau, bukan hanya menyelamatkan satwa dilindungi, tetapi juga menyelamatkan harimau tersebut.
"Populasi harimau yang baik merupakan indikator hutan yang sehat, karena harimau butuh habitat yang luas dan mangsa yang banyak," ujarnya.
Dikatakan, hutan yang kondisinya baik bukan hanya membawa manfaat dan kesejahteraan bagi jutaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
"Misalnya sebagai daerah resapan air, penyediaan air bersih, sumber makanan dan obat-obatan, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penurunan emisi gas rumah kaca," katanya.
Kegiatan tersebut dihadiri 13 negara yang memiliki harimau alam, yaitu Bangladesh, China, India, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, Vietnam, Bhutan, Malaysia dan tuan rumah Indonesia